Senin, 28 Desember 2015

nilai rujukan kurikulum pembelajaran

1 Disciplinary mastery Merupakan nilai rujukan yang paling tradisional yang menempatkan prioritas utamanya pada penguasaan subject matter. Contoh: model pendidikan gerak (Rink, 2002), model pendidikan kebugaran (Aliance American for Health, Physical Education, Recreation, and Dance, 1999); Teaching Children Games (Belka (1994), dan Sport Education (Siedentop, 1994).
2 Social reconstruction Merupakan nilai rujukan yang menempatkan prioritas utamanya pada penguasaan keterampilan soaial, kerjasama dan kepemimpinan, pada saat sekarang lebih diarahkan pada pemecahan masalah diskriminasiras, tingkatan sosial, gender, physical ability, dan penampilan fisik.
3 The learning process Lebih menekankan pada proses belajar. Nilai rujukan ini didasarkan pada premis yang menyatakan bahwa oleh karena volume pengetahuan yang besar dan perubahan yang cepat akibat teknologi, maka pengembangan keterampilan proses untuk terus belajar sama pentingnya dengan pengembangan keterampilan apa yang dipelajari.
. 4 Self-actualization Merupakan suatu nilai rujukan yang terpusat pada siswa yang menekankan pada otonomi individu, pertumbuhan individu, dan penentuan arah individu sendiri. Keputusankeputusan pembelajaran difokuskan sekitar untuk membantu siswa meraih potensinya (Jewet, 1994:57)
. 5 Ecological integration Pada dasarnya menempatkan self-actualization sebagai bagian yang integral dari lingkungan yang selalu berubah secara konstan. Belajar diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain di dalam sebuah lingkungan tertentu untuk membantu siswa menciptakan kehidupan di masa yang akan datang yang akan dilaluinya. Contoh model kurikulum Penjas yang didasarkan pada nilai rujukan ini adalah The Personal Meaning (Jewett, 1994:61; Jewett, Bain, dan Ennis, 1995:35). Nilai rujukan kurikulum (curriculum value orientations) di Indonesia di 313 Determinan terhadap Kecenderungan Nilai Rujukan Guru Pendidikan Jasmani disebut dengan istilah “orientasi pendidikan” (Depdiknas, 2003a:9). Orientasi pendidikan tersebut penekanannya pada Life Skills atau kecakapan hidup yang diartikan sebagai “kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya” (Depdiknas, 2003a: 10). Kecakapan hidup ini di dalamnya terdiri dari empat dimensi, yaitu: kecakapan personal, sosial, akademik dan kecakapan profesional/vokasional. Komponen kecakapan hidup ini sama dengan komponen kompetensi sebagaimana tertera dalam Kepmen No. 19 Tahun 2005. Dalam buku konsep pendidikan kecakapan hidup (Depdiknas, 2003a:9), dominasi nilai rujukan penjas di Indonesia dideskripsikan bahwa di Sekolah Dasar sebagian besar pendidikan difokuskan pada pembekalan kecakapan generik (kecakapan social dan personal) dan sebagian kecil pada pembekalan kecakapan spesifik (kecakapan akademik dan vokasional).
3 Dimensi Nilai Rujukan Kurikulum McNeil (1990) dalam bukunya Curriculum: Comprehensive Introduction, mengungkapkannya dalam istilah “Conceptions of Curriculum” dan mengklasifikasikan nilai rujukan ke dalam empat dimensi yaitu: humanistic, social reconstructionst, technological, dan academic.
1 Nilai Rujukan Humanistic Terfokus pada pengembangan otonomi, integritas, dan pertumbuhan masing-masing individu. Aktualisasi diri individu siswa merupakan inti dari nilai rujukan humanistic. Sumber kurikulum humanistic lebih cenderung menekankan pada individunya.
 2 Nilai Rujukan Social Reconstructionist Pada usaha mempersiapkan siswa untuk dapat memecahkan berbagai masalah serius dalam kehidupan manusia sehingga dapat memperbaiki kehidupan masyarakat dan menghasilkan kehidupan masa depan masyarakat yang lebih baik. Social reconstructionist berkeyakinan bahwa masalah kehidupan masyarakat bukan hanya merupakan perhatian social studies melainkan juga merupakan perhatian dari semua disiplin ilmu. Oleh karena itu, disiplin ilmu tersebut harus terkait dengan masalah kehidupan social dan ditekankan dalam kurikulum. Sumber kurikulum social reconstructionist sesuai dengan namanya lebih menekankan pada masyarakat.
3 Nilai Rujukan Technoligical Cenderung terfokus pada bagaimana mengajar dari pada apa yang harus diajarkan. Tujuan utamanya adalah menemukan alat yang efektif dan efisien untuk meraih tujuan akhir. Keputusan mengenai apa yang harus diajarkan diarih melalui analisis apa yang diperlukan untuk menampilkan suatu pekerjaan. Tujuan pembelajaran cenderung memperkuat pentingnya tujuan konvensional dan tradisi pemilahan bidang kajian akademik seperti, matematika, sains, bahasa, seni dan bidang teknis terapan untuk mengembangkan dunia bsinis dan industri. Sumber kurikulum technological cenderung lebih menekankan pada perpaduan subject matter dan masyarakat melalui perkembangan teknologinya. Sementara untuk kepentingan learners.
. 4 Nilai Rujukan Academic Terfokus pada perolehan hasil akademis. Para ahli kurikulum orientasi akademis memandang kurikulum sebagai alat untuk mengantarkan siswa pada bahan kajian dan disiplin ilmu (subject matter discipline dan organizad fields of study). Mereka menganggap bahwa bahan kajian dan disiplin ilmu merupakan tujuan dari pada sebagai sumber informasi untuk memecahkan masalah individu dan masyarakat.Sumber kurikulum academic menekankan pada subject matter. Longstreet and Shane (1993) dalam buku mereka, Curriculum for A New Millenium, mengungkapkannya dalam istilah “Curriculum Design and The Patterns Followed” dan mengklasifikasikannya ke dalam empat dimensi yaitu terdiri dari: the Society-Oriented Curriculum, the Child-Centered Curriculum, the Knowledge-Centered Curriculum dan the Eclectic Curriculum. The Society-Oriented Curriculum memfokuskan diri pada kehidupan masyarakat. Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa tujuan sekolah (schooling) adalah melayani kebutuhan masyarakat. Kehidupan masyarakat berikut kebutuhannya dijadikan dasar bagi pemilihan konten pada kurikulum ini. The Child-Centered Curriculum terfokus pada siswa. Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa siswa merupakan sumber kurikulum yang sangat penting. Oleh karena itu, konten kurikulum sangat flexibel untuk selalu berubah mengikuti perkembangan belajar siswa. The Knowledge-Centered Curriculum menempatkan knowledge sebagai bagian terpenting dari kurikulum. Para penganut kurikulum ini berkeyakinan bahwa pemenuhan kebutuhan masyarakat dan juga individual akan lebih baik manakala isi kurikulum terdiri dari pengetahuan yang merefleksikan dibutuhkan masyarakat dan individunya. The Eclectic Curriculum merujuk pada pemilihan isi kurikulum yang didasarkan pada sejumlah sumber kurikulum yang berbeda. Para penganut kurikulum ini berkeyakinan bahwa semua siswa harus mempelajari materi dan aktivitas inti tertentu hingga siswa sesuai dengan keadaan masyarakat dan memenuhi persyaratan kebutuhan masyarakat.